Peringatan Isra Mi’raj di SMPIT Ulul Albab: Saat Luka Dijawab dengan Cahaya

0

SMPIT Ulul Albab menyelenggarakan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada hari Ahad, 16 Januari 2026, sebagai upaya penguatan nilai-nilai spiritualitas dan pemahaman sejarah bagi seluruh santri. Acara dibuka dengan khidmat melalui penampilan tim hadroh yang membawakan selawat. Di tengah suasana pembukaan tersebut, para santri menikmati hidangan ringan yang disediakan panitia berupa roti, salad, dan es teh. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan secara formal dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ananda Aqif, yang disusul dengan sambutan dari Ketua PLTA, Ustadz Ihsanuddin yang menyampaikan mengenai pentingnya mengambil hikmah perjalanan Rasulullah sebagai landasan pembentukan karakter siswa. 

Puncak agenda diisi dengan penyampaian materi oleh Ustadz Wachid Ramadhan yang membawakan narasi secara komunikatif dan sistematis. Mengawali paparannya, Ustadz Wachid menjelaskan peristiwa krusial sebelum perjalanan dimulai, yaitu proses penyucian hati Rasulullah SAW. Beliau menekankan bahwa peristiwa tersebut merupakan isyarat spiritual dari Allah SWT bahwa untuk menghadap Sang Pencipta, komponen utama yang harus disiapkan adalah kebersihan hati (tazkiyatun nafs). Hal ini menjadi refleksi penting bagi para santri bahwa kesucian niat dan hati adalah prasyarat utama dalam setiap bentuk pengabdian kepada Allah SWT. 

Dalam tinjauan akidah, Ustadz Wachid memberikan penegasan bahwa peristiwa Isra Mi’raj dilakukan oleh Rasulullah SAW bukan hanya melalui ruh, melainkan juga dengan jasadnya secara nyata. Beliau menjelaskan bahwa keterlibatan jasad dalam perjalanan supra-rasional ini merupakan bukti otentik bahwa Isra Mi’raj adalah sebuah mukjizat besar yang melampaui hukum alam. Jika perjalanan tersebut hanya bersifat ruhani atau mimpi, maka dimensi kemukjizatannya tidak akan menjadi ujian keimanan bagi umat manusia pada saat itu. 

Lebih lanjut, Ustadz Wachid mengulas esensi perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha yang berada di Palestina. Beliau menggarisbawahi pentingnya menyampaikan dan menghidupkan isu Palestina dalam setiap peringatan Isra Mi’raj. Hal ini didasarkan pada kedudukan Masjidil Aqsha sebagai kiblat pertama umat Muslim selama periode Mekkah hingga 17 bulan pasca-hijrah. Oleh karena itu, empati dan doa bagi keselamatan Palestina merupakan bagian dari integritas sejarah dan keimanan umat Islam. 

Sebagai pesan inti, beliau menegaskan bahwa hadiah abadi dari peristiwa ini adalah shalat. Shalat diposisikan sebagai “pesan cinta” dari Allah SWT, di mana hamba-Nya tidak perlu mendaki langit secara fisik untuk bertemu Sang Pencipta, karena jalan langit tersebut telah dihadirkan melalui ibadah shalat sebagai media komunikasi langsung dengan Allah SWT . Melalui peringatan ini, diharapkan para santri SMPIT Ulul Albab dapat memahami kedalaman makna shalat sebagai kebutuhan spiritual harian, sekaligus memperkuat komitmen untuk menjaga kebersihan hati dan kepedulian terhadap dunia Islam.